Jumat, 12 Februari 2016

STUDI SIFAT FISIK KAYU SEMURAU (Shorea spp) PADA BERBAGAI POSISI BATANG DI HPT PERADUAN TINGGI KABUPATEN BENGKULU SELATAN
Eed Hiduwisda*, Saprinurdin**, Nani Nuriyatin***
Jurusan Kehutanan Universitas Bengkulu
Jln. Raya Kandang Limun Bengkulu 38371A
Email : dangeed@gmail.com
ABSTRAK
Sifat fisik kayu merupakan sifat bawaan yang secara umum mempengaruhi ketahanan alami kayu. Pemanfaatan kayu secara efektif dan efisien memerlukan pemahaman tentang sifat-sifat dasar kayu yang terkait dengan rencana penggunaan akhirnya. Penggunaan kayu sebagai bahan konstruksi memerlukan data mengenai sifat dasar kayu terutama sifat fisik dan mekanik. Sifat dasar tersebut juga dapat menjadi dasar penentuan kelas kuat kayu. Penelitian sifat fisik kayu Semurau (Shorea spp) pada berbagai posisi batang bertujuan untuk melengkapi data dan informasi sifat-sifat dasar kayu Semurau, sehingga dapat dimanfaatkan oleh masyarakat maupun industri secara tepat dan optimal sesuai dengan karakteristik sifat dasarnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kayu Semurau (Shorea spp) memiliki berat jenis 0,553, penyusutan tangensial dan radial dari basah ke kondisi kering udara 1,49% dan 0,62%, penyusutan tangensial dan radial dari basah ke kondisi kering tanur 6,08% dan 3,15%. Sedangkan kadar air basah susut tangensial dan radial adalah 86,10% dan 73%. Berdasarkan berat jenisnya kayu Semurau digolongkan kedalam kayu kelas kuat III dan diharapkan hasil ini bias menjadi dasar peruntukkan kayu yang lebih proporsional.
Kata kunci : Sifat Fisik, Posisi Batang, dan Semurau
PENDAHULUAN
Kayu merupakan salah satu sumber daya hutan yang sudah lama dikenal dan banyak dimanfaatkan oleh manusia, baik untuk keperluan kayu bakar, perkakas, maupun sebagai bahan konstruksi bangunan. Kayu sebagai bahan konstruksi bangunan, mempunyai keunggulan yaitu selain mudah didapatkan dan pengerjaannya relatif mudah kayu juga mempunyai nilai dekoratif yang tinggi bila dibandingkan dengan bahan bangunan lainnya. Kayu juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan olahan seperti bahan pembuatan kayu lapis, papan partikel, pulp dan kertas serta masih banyak produk-produk akhir yang bisa di manfaatkan dari kayu.
Kebutuhan kayu bulat di Provinsi Bengkulu dari tahun ke tahun terus meningkat seiring dengan berkembangnya kemajuan tekhnologi dan bertambahnya jumlah penduduk, sedangkan bahan baku yang tersedia di hutan alam semakin berkurang. Saat ini industri perkayuan di Provinsi Bengkulu membutuhkan bahan baku kayu bulat sekitar 120.000 m³/tahun (BLH, 2002), sedangkan tahun 2012 total produksi kayu bulat sebesar 10.437 m³/tahun. Dengan demikian kebutuhan industri perkayuan di Provinsi Bengkulu masih belum terpenuhi.
Dikabupaten Bengkulu Selatan luas hutan produksi terbatas (HPT) Peraduan Tinggi sekitar 8.160,5 ha. Total produksi kayu bulat pada tahun 2012 sebesar 4.823
m³/tahun. Meningkat secara signifikan bila dibandingkan dengan produksi kayu bulat pada tahun 2011 yaitu 2.922 m³/tahun (Dinas Kehutanan Provinsi Bengkulu, 2013). Namun, demikian jika melihat data kebutuhan kayu yang semakin meningkat dan semakin mahalnya jenis kayu komersial, maka tidak menutup kemungkinan untuk menggunakan kayu jenis lain sebagai bahan baku alternatif. Salah satu jenis kayu lokal yang belum banyak dimanfaatkan masyarakat yaitu kayu Semurau (Shorea spp). Potensi kayu ini banyak terdapat di hutan produksi terbatas Peraduan Tinggi Kabupaten Bengkulu Selatan.
Hasil identifikasi yang dilakukan di laboraturium Pusat Litbang Keteknikan Kehutanan dan Pengolahan Hasil Hutan Bogor, kayu Semurau termasuk dalam famili Dipterocarpaceae sp dengan nama ilmiah (Shorea spp). Selama ini masyarakat mengolah dan memanfaatkan kayu Semurau sebagai bahan baku kayu pertukangan dalam bentuk balok, kusen dan papan. Namun demikan, data dan informasi mengenai kekuatan dan ketahanan kayu Semurau saat ini belum ada tersaji secara kualitatif dan kuantitatif, informasi yang ada hanya berdasarkan keterangan dan pengalaman dari masyarakat setempat yang menggunakannya.
Pemanfaatan kayu secara efektif dan efisien memerlukan pemahaman tentang sifat-sifat kayu yang terkait dengan rencana penggunaannya. Penggunaan kayu sebagai bahan konstruksi memerlukan data sifat dasar kayu terutama sifat fisik dan mekanik. Sifat fisik dan mekanik merupakan sifat bawaan yang secara umum dapat mempengaruhi ketahanan alami kayu yang memiliki keterkaitan satu sama lainnya (Muin dkk, 2010). Keterkaitan yang erat ini dibuktikan dengan adanya hubungan positif antara sifat fisik dengan sifat mekanik yang seperti misalnya adanya hubungan yang positif antara BJ dengan sifat-sifat kekuatan. Hal ini berarti bahwa dengan nilai berat jenis (BJ) yang semakin tinggi maka akan memberikan nilai kekakuan yang semakin tinggi pula, demikian pula dengan nilai kelengkungan dan keteguhan tekan sejajar serat (Haygreen dan Bowyer, 1993). Dengan demikian penguasaan sifat-sifat dasar kayu secara baik dapat menekan kerusakan bahan baku kayu sehingga efisiensi industri akan pengolahan kayu dapat ditingkatkan.
Sifat-sifat kayu dalam satu pohon sangat bervariasi, bahkan kayu yang berasal dalam satu pohon memiliki sifat yang berbeda jika dibandingkan antara bagian pangkal, tengah dan ujung (Belly dkk, 2013). Adanya perbedaan variasi sifat kayu dalam suatu pohon disebabkan oleh perbedaan jumlah zat dalam menyusun dinding sel dan kandungan zat ekstraktif dalam suatu pohon Haygreen dan Bowyer (1989). Penelitian ini bertujuan untuk menentukan nilai sifat fisik dan menentukan apakah ada perbedaan sifat fisik kayu semurau (Shorea spp) pada berbagai posisi batang.
BAHAN DAN METODE
Penelitian ini dilaksanakan pada Desember 2015 sampai April 2015. Sampel kayu diperoleh di kawasan hutan produksi terbatas Peraduan Tinggi Kabupaten Bengkulu Selatan Provinsi Bengkulu. Pembuatan sampel uji dilaksanakan di Sawmile Ci’ing Kabupaten Bengkulu selatan. Uji kekuatan sifat fisik dilakukan di Laboratorium Kehutanan Universitas Bengkulu
Bahan yang digunakan sebagai obyek penelitian ini adalah kayu semurau (Shorea spp). Sedangkan alat yang digunakan pada penelitian ini berupa chain saw, gergaji belah, gergaji potong, kamera, penggaris, parang dan alat tulis menulis. Sampel kayu diambil dari pohon semurau
ANALISIS DATA
Data akan dianalisis dengan menggunakan program Ms-Excel 2007 dan disajikan dalam bentuk tabulasi, dan deskriftif. Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak kelompok lengkap (RAKL) dengan faktor tunggal (A) dimana terdiri dari 3 perlakuan yaitu posisi dalam batang (pangkal, tengah dan ujung). Jumlah sampel uji sifat fisik yaitu 3 ulangan x 3 pohon = 9 buah. Data yang diperoleh diolah dengan analisis keragaman berdasarkan (RAKL) dengan model persamaan umum yaitu :
Y = μ + K + τ + ε
Dimana :
Y : nilai pengamatan untuk faktor posisi dalam batang taraf ke-i
μ : nilai rata-rata umum
K : pengaruh pengelompokan
τ : pengaruh faktor perlakuan
ε : pengaruh galat
Apabila pada analisis keragaman, perlakuan yang diberikan berpengaruh nyata, maka dilakukan uji lanjut dengan uji BNT.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar